Tuesday, March 7, 2017

Jujur Mengakui Diri Sebagai Provokator

Provokator, mungkin istilah ini yang biasa kita kenal dengan aksi atau aktifitas memprovokasi baik itu hal buruk atau hal baik. Jika kita baca di google :
provokator/pro·vo·ka·tor/ n orang yang melakukan provokasi: perang terselubung itu melibatkan dinas rahasia, -- teroris, dan pembunuh
Ini yang akan saya share adalah kejadian apa adanya yang saya dengar dan mungkin saya alami. Terlibat disuatu instansi untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, mungkin pekerjaan ini ada sulitnya atau mungkin pekerjaan ini mudah bagi yang memahami nya secara mendetail. Mengupas tuntas untuk membenarkan suatu yang selama ini menjadi perdebatan/di nilai salah adalah tugas berat, karena ada beberapa pihak yang setuju bahkan dilain pihak ada yang tidak sependapat, dan pihak ini lah mungkin yang akan menghalalkan segala cara agar pekerjaan tersebut tidak dapat ter-Realisasi dengan baik.

Di seputar kegiatan tersebut mungkin dan dapat dimungkinkan untuk pihak yang tidak sependapat hanya beberapa bukan hitungan dalam sebuah Tim / Sebuah kelompok dan mencoba mengagalkan ide / gagasan dari hasil sebuah kesepakatan sehingga bisa saya sebut dengan provokator.

Loh mengapa saya sebut sebagai provokator ? karena sebelumnya saya tidak pernah beranggapan bahwa orang-orang tersebut adalah provokator. Ups Maaf Bukan "Orang-orang tersebut" tapi hanya dia dan dia saja.

Disebuah forum diskusi yang ramai dan dihadiri berbagai belah pihak, sangat disayangkan dari seorang tersebut dengan lantang dan berani menyebutkan bahwa dirinya adalah "Seorang Provokator". Bisa dibayangkan disebuah diskusi besar bisa berbicara seperti itu. Mungkin provokator sejati tidak mungkin menerangkan/menjelaskan identitasnya didepan umum bahwa dirinya seorang provokator.

Bisa dibayangkan jika ini berada di lingkup external. Apa yang akan terjadi pada dirinya.? Setelah saya renungkan, saya cukup bingung apa sih dan kenapa sih kok orang tersebut bisa melakukan hal semacam itu, diantaranya :
  • Hobi mengadu argumentasi tanpa memberikan sebuah solusi
  • Menyatakan sebuah argumentasi bahwa seolah dia-lah seorang ahli, pada kenyataannya bukan seorang ahli.
  • Hobi mengkambing-hitamkan orang lain apabila ada suatu kesalahan, yang pada akhirnya kesalahan tersebut diakui olehnya.
Saya pribadi menilai orang tersebut menjadi tidak ada nilainya dimata saya. Lalu kembali kecerita awal ketika dia berani menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang provokator, pihak lain yang pada saat itu adalah pihak external mencoba mengingatkan dengan sepatah kata 

"Hati-hati jika berbicara dan bertindak, karena kita hidup tidak cuma didunia saja, apa yang kita perbuat akan ada balasannya di akhirat.! Memangnya sampean tidak takut ?" 

Secerca kalimat itu yang langsung ditujukan kepada dia, didengar olah kalangan orang banyak dan dia hanya bisa berdiam dan menggerutu didalam hati atau mungkin hanya mencibir saja.

Setelah itu setiap kata yang keluar dari mulutnya, saya selalu beranggapan bahwa itu "bullshit", bahkan mungkin saya sudah tidak menanggapi argumen apapun yang dia nyatakan.

Jadi ada apa sih dibalik misi dan visinya hingga rela memposisikan dirinya menjadi seorang provokator.? Oh ya hanya 1 misinya yaitu menggagalkan pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh banyak pihak untuk mencari kebenaran.

Mari kita ibaratkan ya, kejadian ini (bukan ahlinya tetapi menjadi sok pintar dari ahli nya itu sendiri)

Tukang Bangunan dan Mandor.

Si-mandor ingin membangun sesuatu, contohlah sebuah jembatan. Simandor memerintahkan Tukang Bangunan untuk membuat sebuah jembatan yang akan dilalui oleh kendaraan mobil dan motor. 
Tukang bangunan bersedia, dan kebetulan tukang bangunan ini sudah pernah membuat jembatan.

Si-Mandor memerintahkan Tukang bangunan untuk membeli 100 Karung Semen. Lalu tukang bangunan tidak banyak berkomentar mungkin yang ada didalam pikirannya si Tukang Bangunan mungkin si mandor hanya mampu membelikan 100 karung semen, padahal sesuai dengan perhitungan si tukang bangunan bahwa proyek jembatan tersebut membutuhkan 150 karung.

Setelah dibelikan 100 karung semen, akhirnya si tukang bangunan tersebut berusaha sebaik mungkin memanfaatkan 100 karung tersebut agar kualitasnya menjadi 150 karung. 

Semen tersebut akhirnya di olah Tukang Bangunan tersebut, di aduk lalu dicampur air dsb. Melihat si tukang bangunan mengolah semen-semen seperti itu akhirnya si Mandor berkata "Bukan begitu cara mengaduknya". Si tukang bangunan akhirnya menjelaskan mengapa dia mengaduk semen seperti itu.

Akhirnya si Mandor berkata "harusnya begini begini begini....(tanpa mempraktekan)". akhirnya si Tukang Bangunan mencoba mencerna perkataan si mandor dan akhirnya pun menuruti si Mandor tersebut.

Maka jadilah sebuah adukan semen yang siap buat dibangun jembatan. Setelah jembatan terbentuk tidak lama jembatan tersebut dipergunakan kendaraan, tidak sampai beberapa menit jembatan tersebut AMBROOL. Akhirnya si mandor memanggil si tukang bangunan dan memarahinya dan membawanya ke pihak yang berwajib untuk mengganti kerugiaan atas kendaraan yang lewat jembatan tersebut.

Pihak berwajib mengintrogasi Tukang Bangunan tersebut dan akhirnya si pihak yang berwajib memahami bahwa tukang bangunan ini sudah berpengalaman dalam membangun jembatan, harusnya semen 150 karung tetapi jadi 100 karung, dan pengolahannya seharusnya begini menjadi begini". 
Si mandor tetap bersih kukuh bahwa itu kesalahan si tukang bangunan.

Jujur Mengakui Diri Sebagai Provokator Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Hafid

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan partisipasinya.